DEAR MATAHARI
DEAR MATAHARI
Tidak punya kuasa untuk melawan sang maha kuasa. Penguasa di bumi tak punya hak mutlak untuk berkuasa dan menguasai atas otoritas dan trinitas lain. Setiap hari hati ini berkecamuk hancur lebur sehancur-hancurnya, terasa tak ada puing maupun serpihan. Masih ku termenung sepanjang hari karena aku tak punya kuasa melawan ratu yang menanti buah hatinya menghasilkan kembang bunga yang mengharumkan atas kemenangan perlawanannya dan saudari bidadari di bumi manusia siap menebar senyum manis serta nyanyian haru merdunya.
Aku merasa berdosa dan terdongkrak tendensi yang menghilangkan keadilan pada diri dan sekitarku. Hatiku lirih penuh duka, lelah penat ragaku. Roh otakku semakin stagnan, spirit tubuhku menerawang di awan-awan. Hanya seorang rasul, zending dan misionaris yang membawa kabar gembira. Aku mesti mengabarkan apa kepada matahari yang selalu aku berutang kehangatannya. Aku tahu semua ini kau adalah malaikat pelindung bangsa yang selalu menopang dalam doa yang penuh berlumur air mata.
Aku minta maaf, petualanganku selalu menghampiri hujan, badai dan petir hingga aku tersungkur berulam air mata. Hajatku belum pada waktunya, tuntutan dunia seperti derasnya arus. Daku akui kebaktian ini belum saatnya, jalan yang sedang ku lalui belum sepenuhnya lurus, masih lika-liku, dan hatiku sakit juga susah pilih.
Aku harus menanggung semua ini dan harus menebus semua pilihan. Thanks God, napas hidup yang panjang tergerai indah pada jiwa ragaku.
(YT)
RB, 22 Mei 2025

Komentar