BAYANG MENYELIMUTI
BAYANG MENYELIMUTI
Kanan kiri ku gapai hanya bayang menyelimuti.
Embun menetes merekah fajar pagi hanya sujud bersimbah darah sambil bermain jenaka.
Tegilas absurd tanpa memvalidasi konsiderans lika-liku tulang belulang.
Tak ada yang tersisa semua sirnah dan luntur seketika, akankah cekik semangat juang yang membara bagai bara api?
Kutahu bintang selalu mempesona untuk memikat hati yang hampir tertilang.
Untaian mutiara cinta terkiblat membelit erat sebab ini janji.
Tanah dan manusia adalah senyawa satu tubuh satu spirit dibumi jelata sejagad raya.
Selamatkan tanah dan manusia adalah doa yang selalu kami lafalkan sembari angkat tangan kiri sebagai simbol menolak mundur.
Roh halus becongkah-congkih bagai predator mencari mangsa.
Dalam dirinya mengalir sinar darah narsistik yang merajai, inilah bukti corak budaya para penguasa.
Kekuasaan semakin berpesta-pora diatas derita, kejujuran semakin celaka baginya, makin bisu makin bungkam.
Entahlah, itulah fakta perangai keserakahan manusia yang berakar irih dengki pada tubuhnya.
Semestinya pupusan senja membawa irama dengungan kebenaran yang menggema di bumi dan mengguruh di langit.
Adakala dialektika adalah intisari dari diskusi untuk gapai solusi tanpa mengobati dan membumbui.
Mengapa celoteh belaka menjadi mimpi para pemangku disinggasana?.
Ini bukan impian dan cita-cita kami, retorika tanpa saksi hanyalah fiksi, tak bisa merekayasa sejarah aneksasi.
(YT)
Almasuh, 07 Juli 2025

Komentar