Tak Berakhir
Dibawah bulan purnama ditengah hiruk-pikuknya metropolitan, indahnya bagai kota dumai tak seperti Papua Selatan, itulah senyum sapamu yang melegakan jiwa muda yang hendak terlantar bagai di belantara hutan, diduga ulah tak sebegitu demikian, purnama datang menyinari kesunyian hati di dunia, kau membawa banyak luka tapi senyum manisnya membangkitkan kemurungan perasaan cinta yang hampir melahap kecurigaan malapetaka.
Iwan fals dalam liriknya, buku ini aku pinjam, kan ku tulis sajak indah, hanya untukmu seorang, tentang mimpi-mimpi malam. Sontak tersendat tentang memorial kelam, bersamamu melewati mimpi-mimpi indah tapi itu hanyalah khayalan belaka. Sa bukan sedang mendongeng alkisah tapi mimpi-mimpi kita yang belum sempurna menjadi kisah. Kau suka dan gemar sakiti luka yang memar tapi dengan datangnya rembulan malam yang nyaris sempurna bersinar, kau membawa tangisan menjadi pembebasan pada hati yang tergembok belukar.
Lelaki jalanan yang penuh kesederhanaan, larut dalam impian yang mustahil bagi orang diluar sana tapi bagiku tiada yang mustahil. Tuntut yang mustahil demikianlah caraku mencintaimu. Bagaikan kertas kosong begitulah kekosongan hati yang menantimu dalam gundah gulana, untuk datang menggoreskan pena seperti bulan purnama menerangi sejagad Bumi Raya.
Termangu sejenak menatap; tak kudengar lirih senandung, tapi pancaran secuil sinar kecil terasa, terasa bagai setitik cahaya pelangi yang terpancar indah permainya senyuman manis-mu. Kau menyalahi pelita harapan tapi hujan mendung meredupkan, semua terhenti, dan terhenti tanpa berakhir, kau tak akhiri, belum selesai tapi kau tamatkan begitu saja dengan seiring berjalannya waktu.
(YT)
LB, 23/06/2024

Komentar