Sedang Lupa
Dibawah terik matahari yang memikat jiwa, senja mengantarku pergi jauh ke angkasa. Awan panas tak terbayang bumi kian tandus, manusianya makin tertindas makin berilusi dalam cengkraman kekejaman penindas.
Bukan tentang soal ekonomis yang tak menunjang, bukan pula tentang ruang dan waktu yang lama berdenging. Tak kunjung damai itu beriring petang, kala senja itu mereka berkongkalikong.
Di seberang terlintas lirih tanah air atau mati, pilihan adalah sebuah amunisi revolusi. Yang mesti tak jangkau asumsi yang bergensi kelas ambisi, hari ini prakondisi bertubi-tubi yang dikemas oleh kelas kapital seakan bernuansa proposisi.
Lega nafasku memburu kedamaian yang hilang di tengah letupan kedokan, bersyukur jika lebih hening sejenak tanpa cari pembenaran. Sebab bergelar ego adalah musuh abadi membawa penyesalan, bukan luka yang membusuk tapi delusi yang tak ukur barometer derajat masa depan.
Polusi mengepung tatanan selak beluk kehidupan, sendi-sendi tercerna aroma terapi ketergantungan. Makin hari makin gesit dilema semesti mengharap keajaiban, dunia seakan tak putar dan kita sedang terlena dalam alunan halleluya puji Tuhan Amin.
(YT)
RB, 21 Juni 2024

Komentar