Musafir & Takhayul
MUSAFIR & TAKHAYUL
Sang Musafir Bertanya:
Kebebasan adalah kodrat makhluk hidup termasuk manusia. Kenapa harus ada hukum dalam suatu kawasan berpenghuni?
Nyaring Sang takhayul Menjawab:
Hukum adalah untuk mengatur keseimbangan antar manusia karena tanpa hukum akan ada penggunaan kebebasan tersebut oleh pihak manusia tertentu yang merugikan manusia yang lain.
Sang Musafir:
Siapa sih yang membuat hukum itu?
Bukanlah para pembuat hukum kita, mereka sendiri yang melanggar? Apakah itu bisa disebut hukum?
Sang Takhayul:
Pertanyaanmu sangat kritis , tapi aku akan mencoba menjawabnya. Sang musafir! Tahu kah engkau, bahwa di negeri ini bukan kekurangan orang pintar tapi kekurangan orang bodoh? Tahu kah anda, sandiwara di Negri ini, yang memainkan dramanya oleh orang-orang pintar? Pernah kah kau melihat, orang-orang berjas mewah yang berkoar semanis rasa madu tapi itu hanyalah retorika belaka? Pernahkah engkau mendengar, seorang pejabat negara korupsi Jutaan, Milyaran dan bahkan triliunan rupiah tapi jarang jadi koruptor? Bung Musafir!; Negeri ini, sedang ada dalam penjajahan dan Penindasan modern!
Sang Musafir:
Jika demikian, apa yang harus kita lakukan?
Negari ini semakin tua, tapi juga semakin memburuk!
Sang Takhayul:
Solusi alternatif adalah bubar!
Sang Musafir:
Kenapa musti bubar!!!
Apakah bubar untuk merelakan kejahatan merajalela? Ataukah bubar untuk menjauh dan menyelamatkan diri pribadi setiap orang? Atau, apakah bubarkan negara ini dan mendirikan negara masing-masing di setiap wilayah? Dan ataukah meletuskan revolusi anarkisme untuk hidup tanpa negara?
Sang Takhayul:
Iya, Kita harus berdikari diatas tanah dan wilayah kita masing-masing. Tidak ada yang tabu, tidak ada hukum yang melarang untuk mendirikan sebuah keajaiban yang adil dan damai. Hukum di negara ini tajam tumpul keatas tajam kebawah yang artinya para pembuat hukum itu mereka buat hukum itu untuk melindungi dirinya sendiri, sanak saudara dan keluarganya, sementara mereka sendiri yang melanggar tapi tidak dapat hukuman yang setimpal seperti rakyatnya mendapatkan hukuman yang agresif dan gesitnya represif.
Sang Musafir:
Alerta! Alerta!, Nyalahkan tanda bahaya!
Apa yang terjadi jika kita bubar berdikari dan apa yang terjadi jika kita terus tunduk pada kejahatan otoritarianisme?
Sang Takhayul:
Tunduk bukan berarti budak! Tunduk bukan berarti diam atau patut. Tetapi, jika kita tunduk pada kejatahan maka ancaman bagaikan air di batang leher.
Kita harus mandiri, tidak ada yang adil di republik ini. Kita harus bubar, cari jalan keluar dari rantai kolonialisme modern. Kita harus berdikari di negeri dan wilayah kita sendiri sebab negara Republik ini tidak ada kedamaian, keadilan dan kebenaran.
Sang Musafir:
Bongkar! Bongkar!, kita harus bongkar semua kerongkongan bunyi yang membabi buta! Kami tidak mau dimengadu-domba, kami tidak mau dikambinghitamkan oleh mereka! Kami mau hidup dengan kedamaian, kami mau hidup yang adil, kami mau jalani hidup dengan benar.
Sang Takhayul:
Kawan, Persiapkan diri. Kita harus lawan dan kita harus mengakhiri.
Sang Musafir:
Jika rakyat pergi, ketika penguasa berpidato;
Kita harus hati-hati, barangkali mereka putus asa.
Kalau rakyat sembunyi dan berbisik-bisik,
Ketika membicarakan masalahnya sendiri;
Penguasa harus waspada dan belajar mendengar.
Bila rakyat tidak berani mengeluh itu artinya sudah gawat!
Dan bila omongan penguasa tidak boleh dibantah, kebenaran pasti terancam!
Apabila usul ditolak tanpa ditimbang!
Suara dibungkam, kritik dilarang tanpa alasan!
Dituduh subversif dan mengganggu keamanan, maka hanya ada satu kata: LAWAN!!
"Peringatan oleh: Wiji Thukul"
(YT)
RB, 16/05/24

Komentar