Kita Tidak Bodoh
Saya sepakat dengan pendapat dari kawan Russell, bahwa sesungguhnya kita terlahir memang tidak tahu apa-apa. Tetapi bukan bodoh. Justru yang membodohi kita adalah pendidikan.
Dalam dunia pendidikan kami tidak mengenal yang namanya persoalan imperialisme di bumi manusia. Kami tidak tahu apa-apa tentang imperialisme, kalau sesungguhnya imperialisme itu adalah anak kandung dari kapitalisme untuk mengeruk kekayaan alam demi memperkaya dirinya sendiri.
Kami tidak pernah di ajarkan kalau sebenarnya di Papua ada Freeport-McMoRan yang menghasilkan jutaan ton Emas, Tembaga, Uranium dan lainnya. Kami tidak pernah di ajarkan betapa topeng yang paling menyeramkan laksana raksasa yang hendak melahap matahari di ujung timur matahari terbit yang namanya fasisme.
Ada pula pamflet bertopeng di sepanjang jalan raya yang terlihat indah bagai bidadari dan dermawan dari surga. Yang seolah-olah mau melindungi umat manusia yang fana ini dengan menyebarkan "PAPUA TANAH DAMAI". Ada elit dan politikus yang bergelora dalam retorika belaka dan menyiarkan hak sulung untuk berorientasi dalam genggaman ilusi keadilan dan kesejahteraan atas nama demokrasi.
Betapapun narasi positif yang dicetus dalam mulutnya, itu hanyalah kedokan. Demi mendongkrak popularitas dan elektabilitas imperialisme dan kapitalisme yang beraksi untuk menguasai negeri-negeri produktif sumber daya alam.
Situasi dan kondisi diatas ini adalah fakta dan aktual yang sedang berkembang biak di Papua. Kami tidak tahu, kami di bodohi oleh pendidikan yang melahirkan dogmatis dan apatis terhadap isu-isu demikian. Sehingga kami hanya bergelut dalam derasnya arus penjajah. Dan banyak dari kami yang menjadi boneka/robot penggerak yang dapat memainkan sesuka hati oleh berambisi kekuasaan mereka atas nama kedaulatan manipulatif yang gagal secara moralitas.
Karl Marx, berpendapat bahwa; ketidaktahuan tidak akan menolong siapapun. Dan memang benar dalam situasi seperti ini di Papua. Kami hanya berharap keajaiban Tuhan. Sebab kolonial atau penjajah selalu mengintimidasi sewenang-wenang, memenjarakan orang yang membela kaum tertindas, merampas Hak Ulayat Tanah Adat, Pencitraan dan Rasisme, Cacian, Hinaan dan makian. Penjajah akan selalu memakai berbagai topeng kedamaian, sementara kekerasan, pembunuhan, konflik horizontal sesama kaum tertindas, ruang demokrasi terkubur, hak berpendapat tidakkah lumrah. Semuanya berjalan secara teratur, terstruktur sistematis dan masif, ini upaya mereka; untuk kita selalu tunduk pada kejahatan dengan mereka menakut-nakuti kita. Akhirnya membuat kita selalu menyembah dan berharap padahal serta karunia dari sang tuan kolonial yang berbudi luhur yang mahakuasa.
(YT)
RB, 09 Mei 2024

Komentar