Jangan Mati
Su tra jaman lagi tong buat edukasi di Facebook, apa lagi open book. Sio naif telah tumbuh, berakar di setiap tubuh. Kecil sampai lansia, tra memandang usia. Kecanduan bunuh rata tanpa terkecuali seperti teriknya matahari.
Takut dibilang menggurui tapi kehidupan semakin tajam bagai samurai, semakin kesini menelusuri bekas jejak pun susah pedasnya cabai. Tak luput dari kesalahan, jalan berlari terantuk bebatuan, justru kebodohan menikam korban, bukankah terantuk adalah pengalaman untuk perbaikan?
Berakar besok lusa tula terbuai hanyut dalam derasnya kemunafikan, terhimpit di tengah higienis demi kenyamanan. Hari-hari berlalu polusi semakin tinggi melewati badai petir yang menyambar tanpa tak tahu diri. Lain sedang terjebak lain sedang terjerumus itulah hal biasa, jangan sampai luar biasa apa lagi leluasa menguasai tanpa disadari kekuatan kekuasaan penguasa.
Salam dariku kaum pinggiran yang termarjinal, oleh debu jalanan gembel yang meratapi penderitaan handal, membuat sa tra andil bahkan tra dapat adil-keadilan dari para korporat bebal. Sa bukan dengki benci, hanya saja heran watak yang layaknya perlakukan manusiawi tapi ego ambisi seakan kunci surgawi.
Tra berharap apapun hanya saja irama reggae selalu mengiringi setiap tapak kaki, sa bukan seniman bukan melonkalis tetapi puisi selalu mengantar sa berimajinasi. Sedalam-dalamnya lautan biru lebih jauh langit yang biru-membiru. Sa pu harapan selalu positif berharap yang mustahil walau banyak orang menganggap itu tak mustahil.
(YT)
RB, 19 Juni 2024

Komentar