Kapitalisme Berkedok Gren Food Estate
Kapitalisme Berkedok Gren Food Estate
...
Wahai Ibu! Kau kan selalu ku kenang,
Ayat-ayat doa dikau itu tak tergoyahkan,
Bait terakhir dikau berhembus menembusi kelam dan mencapai di jiwa patriot muda.
Aku tahu kepedihan yang kau rasakan,
Saat kapitalisme berkedok Gren food estate itu menghancurkan dikau dengan tumit bajanya.
Kesucian tubuh dikau yang murni suci itu berlumur darah.
Hari-harimu sangat menyedihkan,
ah, sungguh menyedihkan!
Tapi melalui benih yang bermekar malang, ada sebuah buah tentang "Waktu Tuhan Pasti Yang Terbaik" kini sedang bertumbuh subur.
Tumbuhan itu sedang bertumbuh, tumbuh menuntut kebebasan meraih ekspresi seadil-adilnya.
Ranting telah bercabang dimana-mana sebarkan daunnya begitu segar,
Bunganya sedang mekar menanti merekah.
Di setiap sisi ruang dan waktu diatas tanah yang megah, berlimpah kekayaan berlipat ganda.
Tuhan telah menitip semuanya untuk menikmati oleh orang berkulit gelap berbangsa Melanesia bukan di nikmati oleh kolonial Indonesia ataupun Imperialisme Amerika, Eropa dan kami bangga berdiri diri sendiri diatas kaki sendiri dan menentukan nasib sendiri diatas tanah kami sendiri.
Hutan-hutan alami yang kami kenal, gunung sakral yang kami tahu kini telah lari sebelum sang tuan kecil itu berhadap moncong senjata api.
Mulut manis itu berbunyi jujur di mulut tapi diterpa berasap karena kertas putih itu telah kotor memanipulasi fakta tentang janji face to face.
Mereka menginjak ladang di mana warisan kehormatan,
Kini suara pemberontakan terdengar melalui tuntutan ruang dan waktu.
Dalam ruang publik keagungan dan kekuasaan yang penuh penindasan dan penjajahan.
Bertarung mempertahankan Hak Ulayat Melawan Perampasan Tanah kini telah melekat mental perlawanan sambil mengangkat tangan kiri; dengan bernyanyi Papua Bukan Tanah Kosong, Hutan Adat Bukan Lahan Deforestasi untuk Kelapa Sawit.
Dan perlawanan ini akan terus tumbuh sampai ke langit sehingga cincin kebebasan itu meriah, dengan regang tertata rapi, mengiringi sedih, perih yang meringis, bukti mengenang syair kedukaan menjemput kemenangan berlangsung kegembiraan.
Marilah kita bangga dengan bangsa kita, bangsa Melanesia didalam setiap diri pikiran dan jiwa kita;
Sebab tong pu nama tertulis di palungan glory.
Tinggi nan jauh di balik awan, di tengah cerahnya hari secerah wajah paras dan senyum manis Cenderawasih ku.
Lipatan spanduk tentang peringatan keras itu; telah berkobar kini berterbang bersama belaian lembutan angin.
Dan kebenaran telah terangkat, kitorang menari sayonara.
Ini perjuangan atas hak kita yang diretas oleh mereka dan mesti ini akan kebanggaan kita yang abadi.
Walaupun jubah bumi yang bersih dan murni telah memperkosa oleh sih penjahat jahanam.
Dengan baptisan darah pribumi mereka telah kemas semua emas dan kelimpahan yang tak terkira akan kaya raya.
..
[YT]
Mrk, 22/07/2023

Komentar